Tebing Kaligrafi Jadi Sorotan Warga Cianjur

Keberadaan tebing kaligrafi Asmahul Husna yang dibangun Pemkab Cianjur, Jabar, di perbatasan Cianjur-Bandung Barat, menjadi sorotan berbagai kalangan, bahkan sejumlah ormas Islam di wiilayah tersebut menilai keberadaanya dianggap tidak pantas.

Bahkan di media sosial protes keras terkait nama-nama lain Allah yang dibangun ditebing setinggi lima meter dan hanya berjarak beberapa puluh centimeter dari atas trotoar itu, dianggap melecehkan karena selain tidak pada tempatnya lokasi berdirinya kaligrafi di pinggir jalan yang rawan terkena najis.

“Nama-nama Allah SWT harus ditempat yang besih dan suci dari najis, bukan dipinggir jalan apapun alasannya. Coba liat di Jazzirah Arab atau Timur Tengah, mereka negara islam tapi tidak membuat hal yang menimbulkan kemarahah umat. Kami berharap pemerintah daerah segera memugar kembali kaligrafi tersebut karena sudah jelas salah tempat,” kata M Rusdi tokoh pemuda islam di Cianjur, Kamis (5/1).

Bahkan pihaknya sempat menolak keberadaan tugu titik nol Cianjur, yang menempatkan lapaz Allah dalam tulisan arab yang hanya beberapa puluh centimeter tingginya. Hal tersebut dianggap telah menistakan nama sang pencipta dan akhirnya dipugar pemerintah daerah.

Dia menjelaskan, penempatan nama Allah tersebut, harus segera dihentikan dan tidak kembali dilakukan karena sejumlah ormas islam di Cianjur, sepakat untuk turun kejalan meminta Pemkab Cianjur, tidak gegabah dalam membangun dan menata kota dengan mengunakan asmahul husna.

“Jangan sampai menunggu kemarahan warga karena hal berbau agama sangat sensitif. Apakah sudah dikaji sebelumnya sampai nama allah dijadikan tunggu dan kaligrafi nama sang pencipta ditempatkan ditempat yang tidak semestinya,” kata Rusdi.

Sementara Kabag Humas dan Protokoler Setda Cianjur, Pratama Nugraha, pada wartawan, mengatakan, pembangunan tebing tersebut tidak ada maksud untuk merendahkan ataupun melecehkan karena pada dasarnya pemkab hanya mengingatkan pengendara yang melintas atau warga sekitar agar terus mengingat sang pencipta.

“Dibangunnya tebing kaligrafi tersebut, hanya untuk mengigatkan penguna jalan atau warga yang melitas agar selalu ingat pada sang pencipta. Untuk itu dibangunlah tebing kaligrafi di Jalan Raya Citarum tersebut, bukan untuk melecehkan, tapi ini sudah dikaji sebelumnya,” kata Pratama.(rol)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *